Tampilkan postingan dengan label tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juli 2013

Tradisi Semarangan (lainnya...)

Tradisi Semarangan

1. Dugder
Kata Dug der, nama upacara ini, diambil dari perpaduan bunyi bedug yang dipukul sehingga berbunyi dug, dug dan bunyi meriam yang mengikuti kemudian diasumsikan dengan der. Telah dilakukan sejak 1881, tradisi yang dikenal dengan dugder ini menjadi tanda bahwa bulan Ramadhan sudah menjelang karena dilaksanakan tepat satu hari sebelum bulan puasa. Beberapa hari sebelum acara ini berlangsung, biasanya, banyak pedagang yang telah menggelar dagangannya untuk menyambut pembeli pada saat acara ini dimulai. Ciri khas acara ini adalah Warak Ngendog yang dilestarikan hingga kini. Warak Ngendog adalah jenis binatang rekaan yang bertubuh kambing dan berkepala naga dengan kulit seperti bersisik dibuat dari kertas warna-warni. Pada masa sekarang, sebelum acara dibuka, dilakukan arak-arakan yang menampilkan Warak Ngendog dan pengantin Semarangan.

2. Pengantin Semarangan
Di masa lalu pengantin Semarangan ini disebut dengan Manten Kaji karena pria mengenakan sorban yang biasa dikenakan oleh haji. Tidak seperti pengantin Solo maupun Yogya, pada pengantin Semarangan ini keduanya mengenakan celana panjang komprang dengan payet di bagian bawahnya, sedang baju atasnya berupa baju berlengan panjang yang tertutup sampai ke leher. Dalam prosesinya, tidak ada acara injak telur atau lempar sirih tetapi iring-iringan rebana yang menyertai kedatangan pengantin pria. Setelah acara temu kedua mempelai didudukkan di pelaminan dan setelah 10 menit mempelai pria boleh meninggalkan pelaminan sementara mempelai wanita terus duduk sampai acara berakhir.

3. Ruwatan
Pada masa modern ini ternyata tradisi Ruwatan maasih diyakini masyarakat untuk membuang kesialan yang biasa menghambat langkah dalam hidup orang-orang yang tergolong dalam sukerta. Orang-orang sukerta ini, menurut cerita, adalah orang-orang yang akan dimangsa oleh Betara Kala. Untuk keluar dari Sukerta, seseorang harus diruwat. Dalam upacara ini para Sukerta disirami oleh sang dalang dan dilakukan pengguntingan rambut, yang kemudian dilarung ke laut. Dalang, yang kemudian menggantikan kisah wayang kulit mengenai kisah asal mula dijadikannya bocah Sukerta sebagai mangsa Betara Kala ini, bukan sembarang dalam dan harus menjalani tirakat sebelum memimpin upacara ini. Upacara yang dilakukan tiap satu Syura ini sekarang berlangsung massal dan diselenggarakan olehYayasan Permadani.

4.Ba’do Gablog
Upacara yang diselenggarakan di daerah Sodong, Mijen ini merupakan upacara tradisional di bulan Syawal pada hari jatuhnya ba’da kupat yaitu tanggal 6 Syawal. Upacara ini dilakukan untuk memohon berkah dan keselamatan Yang Maha Kuasa dengan membawa berbagai sesaji khususnya gablog yaitu ketupatj nasi yang besar.Sesaji yang dibawa oleh masing-masing penduduk di kumpulkan jadi satu dan kemudian diadakan doa bersama. Setelah doa bersama tersebut sesaji disantap bersama-sama.

Selapanan ala Semarang



TRADISI SELAPANAN DI KOTA SEMARANG
Oleh Rofika Dwi
1.      Latar Belakang
Budaya merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Dimana manusia berada pastilah disitu terdapat budaya. Tiap tempat pastilah berbeda kebudayaannya, antar tempat satu dengan yang lainnya. Suatu bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan berulang-ulang (membudaya) sejak lama dan merupakan konvensional, diterima oleh anggota suatu masyarakat, akan membentuk suatu tradisi.
Hampir dalam keseharian dapat dijumpai pemeringatan kelahiran. Perayaan tersebut sepertinya telah menjadi suatu tradisi dari tahun ke tahun. Tradisi pemeringatan hari kelahiran tersebut sebenarnya berasal dari mancanegara. Sekarang telah menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Indonesia. Khususnya pada masyarakat Jawa, dengan kemajemukan penduduknya, dirasa sudah sangat familiar dengan tradisi tersebut.
Di Jawa Tengah, tidak sedikit masyarakat Jawa (pribumi) yang ikut merayakan tradisi tersebut. Ada perayaan atau peringatan hari jadi, hari lahir (harlah), dies natalis, dan sebagainya. Pada intinya, semua sama yakni peringatan kelahiran. Masyarakat merayakannya bermewah-mewahan, besar-besaran yang hingga dapat menelan budget yang tidak kecil. Alih-aih sebagai salah satu bentuk syukur (tasyakuran), perayannya bagai ajang foya-foya, membuang waktu dan uang. Sehingga tujuan dari peringatan tersebut sudah jauh dari asalnya. Beralih sebagai pemuas kesenangan duniawi.
Di tengah kerasnya arus globalisasi, dirasa mahal kenampakan dari perayaan (tradisional) oleh pribumi (Jawa), khususnya upacara kelahiran asli adat Jawa. Keberadaan tradisi tersebut yang benar-benar murni dapat dikatakan jarang. Kalaupun ada, bagaimanakah prosesi pemeringatannya. Seperti yang telah diketahui, di era modernisasi ini kebanyakan pemeringatan hari kelahiran sarat dengan kue tart, lilin dan lain-lain. Apakah dalam adat Jawa memang sama seperti itu, pastilah di dalamnya kental dengan maksud spirituil. Dengan kata lain, dalam suatu upacara sarat akan makna.